:::: MENU ::::

Senin, 17 November 2014

Dari keempat kakek dan nenekku, aku hanya pernah bertatap muka dengan satu di antaranya. Dia adalah ibu dari ibuku. Hal yang paling kuingat darinya adalah dia sering membuat kue menjelang hari raya. Banyak orang yang memesan untuk dibuatkan kue. Ada beberapa kue yang bisa dipesan kepada mbah (aku memanggilnya demikian), yakni tingting jahe, tingting kacang, sato, kue mawar dengan selai nanas (aku tidak tahu nama yang umumnya dipakai untuk kue ini).

Menjelang hari raya Idul Fitri, mbah selalu sibuk. Dia membuat kue dari pagi hingga sore. Pada pagi hari dia mulai menata kayu bakar dalam tungku. Dia membutuhkan bahan bakar kayu dengan apinya yang besarnya tidak bisa dihasilkan dari kompor minyak.

Di atas tungku itu kemudian dia melelehkan gula hingga berbentuk lengket semacam lem kertas, warnanya kuning tua. Ibu tidak terlalu bisa memasak, dia terkadang membantu tapi hanya untuk hal-hal sepele seperti merendam dan mengupas kacang, menjemur buah asem, dan mengepak kue ke dalam toples. Terkadang aku juga membantu di dapur, jika tidak sedang bermain biasanya aku ikut mengaduk gula yang sedang dipanaskan, ikut mencetak kue sato. Aku juga ikut memotong lembaran kue tingting jahe dan tingting menjadi bagian-bagian kecil sebelum masuk ke toples. Tapi itu tidak sering, ayah mengingatkanku untuk tidak terlalu sering beraktifitas di dapur, katanya dapur itu urusannya wanita. Sejak itu aku mulai berpikir dua kali jika ingin membantu mbah di dapur, lagipula aku tidak benar-benar membantu di dapur, mbah sering harus mengaduk lagi gula yang telah aku aduk, dia harus menuntun pisauku saat memotong lembaran kue. Hematnya, aku di sana hanya merepotkannya saja.

Dapurku untuk membuat kue masih beralaskan tanah, luasnya hampir sepertiga keseluruhan luas rumah. Tidak ada kompor gas, hanya tungku api yang terbuat dari batu bata. Bahan bakarnya adalah kayu kering, mbah biasanya menyimpan cadangan kayu kering di depan rumah di bawah teritisan atap, di samping taman depan. Di dapur itu juga ada meja makan bertaplak merah muda dengan corak persegi kecil. Ukurannya cukup besar untuk menampung sekitar delapan jenis masakan di atasnya.

Dapurku tidak pernah terlihat berkilau, tembok dan tungkunya berwarna hitam akibat asap dari sisa pembakaran kayu bakar. Tidak ada langit-langit, aku bisa melihat genteng dan rangka atapnya dari bawah yang juga berwana hitam. Lantainya berwarna coklat kehitaman, kadang becek karena ada tetesan air yang jatuh dari atap yang bocor, tapi itu tidak sering.

Saat aku SMP, rumahku direnovasi. Atapnya ditinggikan, ubin lantai diganti dengan keramik. Dapurnya juga ikut diperbaiki. Lantai tanah diganti keramik, tungku diganti kompor minyak, tidak ada tembok hitam. Waktu itu mbah tidak terlalu keberatan, karena dia memang akan berhenti menerima pesanan kue, lebih tepatnya ibu dan ayahku yang menyuruhnya berhenti. Dia mulai sering sakit, ibu merasa dia sudah cukup bekerja di usianya yang menginjak tujuh puluh tahunan. Lagipula keadaan ekonomi keluargaku juga sudah meningkat, nafkah yang dicari ayahku cukup untuk sedikit memanjakan mbah. Ayah dan ibu sepakat untuk menyuruhnya berhenti membuat kue agar sakitnya tidak berkelanjutan.

Aku tidak terlalu ingat dia menderita sakit apa saat dia baru berhenti membuat kue. Aku hanya ingat saat aku sudah sekolah di SMK, dia menderita flu tulang. Nama yang aneh untuk sebuah penyakit, karena aku tahu bahwa tulang tidak akan bisa batuk. Apapun itu, dia menjadi lebih ringkih saat berjalan. Dia sering berjalan pelan-pelan dengan telapak tangan bersandar kepada tembok. Dia juga jarang keluar rumah. Dia lebih sering menghabiskan aktivitas di ruang tamu untuk sekedar melihat jalanan dari balik kaca jendela. Jika terdengar suara adzan, dia ke kamar mandi mengambil wudhu’ kemudian sholat di kamar. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu, kadang juga dia terlelap setelah melakukan sholat.

Seiring bergulirnya waktu, kesehatannya semakin memburuk. Dia semakin jarang duduk di ruang tamu, lebih sering berada di dalam kamar. Dia keluar kamar hanya pada saat ingin mandi dan wudhu’. Saat makan, ibu mengantarkan makanannya ke kamarnya.

Aku tidak mengerti seberapa besar mbah menyayangiku. Itu dikarenakan mbah tidak terlalu banyak berbicara. Dia jarang menasehatiku, dia hanya sering marah saat aku tidak kunjung pulang bermain sepak bola saat adzan maghrib. Dia juga marah saat aku keluar rumah pada jam dua siang untuk bermain. Dia keberatan jika aku bermain saat panas matahari masih menyengat, tapi aku menyukai bermain sepak bola di bawah panas matahari sehingga aku terlalu mendengarnya dan sering mencuri kesempatan keluar rumah saat dia lengah. Sekalipun demikian, dia sering memujiku sebagai anak pintar saat aku mendapatkan ranking tinggi di kelas. Dia juga sering menyuruhku belajar di malam hari, tapi aku jarang menurutinya karena merasa pelajaran di kelas terlalu mudah sehingga lebih sering mengerjakan PR di sekolah pada pagi hari.

Saat aku sudah kuliah di Jember, ibu mengatakan bahwa mbah sering tanya kabarku. Aku paham kekhawatirannya, sehingga aku masih sering untuk pulang agar dia tidak terlalu bingung memikirkan kabarku. Dia meninggal saat aku semester tiga. Dia meninggal bersama sakit yang dideritanya, tapi aku lebih senang menganggapnya sakit karena memang sudah waktunya. Jika aku tidak salah, dia meninggal pada hari Sabtu. Waktu itu aku masih bekerja sebagai tukang gambar freelance pada akhir pekan. Aku ingat ibu meneleponku saat aku di dalam mobil untuk survey lokasi perumahan yang akan aku gambar. Dia meninggal pada tengah hari, setelah dia melakukan sholat dhuhur.

Sejak saat itu, aku mulai berpikir bahwa satu kamar di rumah kami akan kosong. Aku juga tidak akan melihat orang berbaju kebaya lagi di rumah, aku yakin ibu dan adikku tidak akan mau memakai kebaya mengikuti tradisi. Aku juga teringat bahwa aku lupa mencium tangannya untuk berpamitan sebelum bekerja tadi pagi, aku sedikit menyesal untuk itu. Lebih menyesal lagi saat aku tidak bisa mengingat apa percakapan terakhir kami berdua.

Bagaimanapun, aku tidak perlu menyesali kepergiannya. Aku rasa dia telah berbahagia karena mengakhiri perjalanan waktunya di dunia saat anak-anaknya telah mandiri, dalam artian tugasnya sebagai orang tua dan nenek telah selesai. Jikapun ada alasan bagi Tuhan untuk mempertahankan dia di dunia, itu adalah sekedar untuk membuat anak-anaknya mempunyai kesempatan untuk membalas budi untuk merawatnya. Tugas pokoknya telah selesai, dan dia layak untuk mendapat keabadian sebagaimana yang pernah Tuhan janjikan. (17/11/2014)



*Tulisan ini saya buat untuk Dewi Fatmawati yang baru saja kehilangan neneknya. Semoga kamu punya keikhlasan yang besar dan menghilangkan keinginan egois untuk menikmati waktu bersamanya. Dia pasti bahagia karena meninggalkan dunia fana, surga sudah diciptakan untuk membahagiakan jiwa manusia yang lelah.







Sabtu, 15 November 2014



Laki-laki menyukai teka-teki. Dan karena itulah dia tidak menyukai wanita yang banyak bicara. Ketika wanita berbicara, ada dua kemungkinan yang ada dalam otaknya: menggurui, atau muntah. Aku tidak mengerti kenapa mereka memperlakukan laki-laki sebagai orang yang benar-benar peduli dengan masalah mereka saat mereka menceritakan seluruh detail masalahnya. Mulut mereka besar, tapi telinga mereka buntu.
                Mungkin ini salahku sendiri karena terlalu banyak mendengarkan lagu-lagu romantis Iwan Fals. Salah satunya berjudul 22 Januari. Dalam liriknya, sudah bisa ditebak bahwa si wanita adalah pendiam. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Bagian yang paling aku suka adalah bait yang menceritakan mereka berdua berjalan berdampingan di malam hari. Saat itu diceritakan sedang mendung. Saat mereka asyik jalan, keluarlah satu-satunya kata dari mulut si lelaki, “Sebentar lagi hujan.” Aku tidak tahu apakah kata-kata itu sebagai ajakan untuk pulang karena mereka tidak membawa payung, ataukah tanda kegirangan dari si lelaki karena akan berbagi kehangatan di tengah dinginnya hujan sembari berteduh di pinggir jalan. Aku sendiri membayangkan mereka berteduh di halte bus yang sudah sepi sambil duduk berdekatan, kehangatan tubuh masing-masing tersalurkan dari genggaman tangan mereka. Karena lagu inilah aku berkeyakinan bahwa Iwan Fals mempunyai selera wanita yang sama denganku, hahaha.
                Aku rasa semua orang setuju bahwa kita harus adil terhadap tubuh yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita diberi lima indera, mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung. Kelima indera ini diciptakan Tuhan sebagai bekal manusia untuk memahami apa yang di luar dirinya. Wanita tidak bisa bertindak tidak adil dengan memaksa laki-laki mengeksploitasi indera pendengarannya, telinga juga bisa letih dan syaraf-syaraf otak masih harus memikirkan rangsangan dari keempat indera lainnya.
Berkomunikasi seharusnya tidak melulu dengan bahasa lisan dan teks, terlebih lagi untuk sepasang kekasih yang mengaku sudah mengerti satu sama lain. Lagipula, aku rasa kenikmatan saat bercinta terlalu abstrak untuk digambarkan melalui bahasa apapun. Lihatlah, kamus bahasa indonesia hanya setebal tujuh centimeter, bahkan masih kurang tebal jika dibuat bantalan tidur.
Kita kemudian harus mulai memikirkan kembali cara berkomunikasi antar pasangan. Aku ingin menatap mata beningmu yang konon bisa menerawang jauh ke lubuk hati. Kulitku ingin merasa dicintai dengan belaian lembut tanganmu, dia juga tidak pernah keberatan jika harus ditampar jika sesekali pantas menerimanya. Hidungku juga ingin menghafal bau tubuhmu agar aku bisa menebak parfum apa yang sering kau pakai. Lidahku ingin merasakan masakanmu yang katanya sering kau beri bumbu cinta. Apapun pendapatmu tentang kegombalan ini, yang pasti sepasang kekasih tidak sepantasnya mengerti apa yang dirasakan pasangannya hanya melalui bahasa lisan dan teks. Dengan itu kita bisa berpendapat bahwa seorang bisu sekalipun masih layak mendapatkan cinta.

Rabu, 15 Oktober 2014

                Sejak awal melihat acara smackdown (dulu ditayangkan di Lativi), saya heran bagaimana para pemain gulat bertubuh kekar itu terjatuh beberapa kali tanpa cedera. Ringnya memang empuk, semacam ada pegas di bawahnya, namun saya rasa dibanting oleh orang bertinggi 7 kaki semacam Big Show akan sakit tidak peduli di manapun anda dibanting. Kemungkinan terbaik dari keheranan saya ini adalah mereka sudah berlatih untuk adegan ini.

                Sekalipun pegulat sudah berlatih, namun bukan berarti terhindar dari resiko cedera. Randy Orton mengalami cedera bahu dan absen beberapa bulan pada tahun 2002. Blue Blazer (pegulat bertopeng yang menggunakan blazer biru saat memasuki arena) tewas setelah jatuh dari ketinggian 15 meter saat bergelantungan pada tali yang kemudian putus. Resiko-resiko ini harus dihadapi oleh para pegulat hanya untuk melakukan sandiwara di atas ring.

                Gulat bukanlah olahraga, karena pertandingan gulat lebih merupakan sandiwara. Lebih jelas lagi, gulat adalah sandiwara yang menggunakan instrumen olahraga. Adegan banting-membanting dan kepalan tangan digunakan sudah terskenario sebagai satu kesatuan sandiwara. Mungkin, ini yang menyebabkan Dwayne “The Rock” Johnson bisa meniti karir sebagai aktor film. Dia sudah terbiasa berakting di panggung sandiwara gulat, paling tidak menjadi aktor film tidak membutuhkan banyak keringat.

                Dalam pertandingan gulat, skenario sudah disiapkan dan setiap pegulat mempunyai karakternya masing-masing. Penonton tidak perlu menebak-nebak bagaimana karakter pegulat, karena itu bisa dilihat dari namanya. Rey Mysterio, dia adalah pegulat dengan tubuh terkecil, 1,68 meter dan mempunyai gerakan lincah akrobatik. Sesuai dengan namanya, dia memakai topeng untuk menimbulkan kesan misterius. Big Show, mempunyai tinggi 2 meter lebih dan berbobot 193 kg. Jika anda ingin merasakan rasanya ditindih olehnya, suruh empat orang teman anda duduk di atas badan anda. Tubuh dan aksesoris pegulat menjadi obyek untuk memunculkan nama atau julukan pada beberapa pegulat. Setiap pegulat akan mempunyai ciri khas demi menciptakan citra dan karakter untuk membedakannya dengan pegulat lain. Kedudukan, pukulan andalan, bentuk tubuh, dan aksesoris akan menjadi ciri khas dari setiap pegulat.

Saya masih ingat Vince Mc Mahon, chairman WWE (World Wrestling Entertainment) selalu muncul dengan karakter pemilik yang angkuh dan sewenang-wenang. Kata-kata andalannya adalah “You’re fired,” untuk pegulat yang tidak disukainya. Vince Mc Mahon di sini bertugas menimbulkan citra bos yang egois –egois dan sewenang-wenang adalah citra bos secara umum. Lalu The Rock yang memakai pelindung berwarna hitam di kedua sikunya. Boogeyman, ditampilkan sebagai pria bercat dan berpakaian bulu, suka makan cacing.  Yang paling jadi favorit adalah John Cena, dia memakai celana pendek di bawah lutut yang sempat ditiru sebagai style pada celana seragam SMP semasa saya, hehe.

Pencitraan tanpa enigma juga terlihat saat pegulat dalam kuncian badan lawan. Mereka biasa mengerang kesakitan sambil menepuk-nepuk ring tanda tidak kuat menahan derita. Pada saat lawannya terkunci dan dinyatakan kalah, pemenang juga melakukan gaya yang dilebih-lebihkan. Randy Orton biasa naik di sudut ring merentangkan tangannya dengan dagu terangkat dan raut wajah bangga sekaligus sombong. The Rock, biasa mengitari lawan dan menatap penderitaan lawannya akibat sikutnya yang menusuk dada.

Roland Barthes dalam bukunya Mitologi, membahas tentang jelasnya pencitraan dalam gulat. Baginya, penonton mempunyai kepuasan tersendiri saat melihat pegulat jatuh tersungkur. Kepasrahan saat jatuh dan raut wajah penderitaan yang jelas tergambar merupakan prototipe kejadian di dunia nyata. Dia mengatakan bahwa gulat adalah pertunjukan besar mengenai suffering (penderitaan), defeat (kekalahan), dan fairness (keadilan). Untuk menemukan ketiga aspek utama yang ditampilkan ini, penonton disajikan gerakan, raut muka, nada bicara yang sejelas-jelasnya dari pemerannya. Pegulat biasanya berteriak, sempoyongan, dan memegangi bagian tubuh yang sakit untuk menunjukkan penderitaan. Untuk kekalahan, mereka tergeletak tanpa gerakan sedikitpun setelah menerima pukulan andalan dari lawan. Dan untuk keadilan, para penonton biasanya menghendaki ketika ada pertukaran pukulan yang setimpal dari masing-masing pegulat, banting dibalas banting, kepalan dibalas kepalan, sikut dibalas sikut, dsb. Mereka juga begitu antusias ketika seorang pengecut yang dengan sengaja membawa sejata (kursi, pentungan, dan tangga besi) untuk dihukum dengan dihabisi hingga tak berdaya.

Sama halnya dengan gulat, saya rasa video porno juga mempertontonkan citra tanpa enigma sesuai karakternya. Teriakan dan penderitaan dalam gulat bisa disamakan dengan desahan dan geliat tubuh aktris porno. Aktris porno Jepang dengan sengaja mengeluarkan suara desahan karena kenikmatan berhubungan intim. Mereka juga dengan nyata yang menunjukkan kesakitan dan kenikmatan sekaligus dengan berteriak saat orgasme. Hal ini sesuai menurut Freud, saat orgasme adalah saat perubahan dari penderitaan menuju pelepasan kenikmatan.

Jika dilihat dari video porno pada umumnya, kita akhirnya bisa mengkritik video porno yang pernah mengguncang dunia entertainment Indonesia. Pelakunya adalah Ariel Peterpan dan Luna Maya. Kedua pemain dalam video itu masih belum menampilkan apa yang dirasakan. Luna Maya hanya diam tanpa desahan, Ariel juga hampir tanpa ekspresi saat melakukan hubungan intim. Penonton dibiarkan dalam ambiguitas tentang apa yang dirasakannya. Ini diperparah dengan kualitas video yang menunjukkan pixel density yang rendah. Saya setuju dengan Arys Aditya, jika mereka berdua berniat membuat film porno mereka harus lebih menarik. Mereka masih belum bisa mengajak penonton untuk berfantasi membayangkan apa yang mereka rasakan.

Kita tidak akan bisa berharap melihat ekspresi dari pemain gulat dan porno pada dunia nyata, karena pada dasarnya mereka hanya melebih-lebihkan. Tujuan mereka berekspresi demikian adalah semata-mata membuat penonton mengerti. Ekspresi yang berlebihan dapat menggambarkan hasrat yang ingin ditampilkan sesuai skenario menjadi lebih jelas. Para kru dan sutradara akan merasa sukses apabila setiap adegan yang ditampilkan dapat dipahami oleh penonton tanpa menimbulkan pertanyaan.

Sabtu, 13 September 2014



Berbagai bidang pekerjaan dan strata pun ada untuk menjadikan kehidupan manusia tetap bermakna. Mulai menjadi buruh, pedagang kaki lima, pegawai negeri, hingga menjadi pemimpin negara. Beberapa profesi mengharuskan untuk bekerja keras siang dan malam untuk mendapatkan upah yang pas-pasan. Sebagian lainnya mendapat uang berlimpah dengan hanya sebatas memanajemen dan menyumbangkan isi kepala pada suatu pekerjaan. Bahkan dalam beberapa hal, kita bisa menemui manusia mempertaruhkan nyawanya untuk bekerja menghidupi keluarganya atau sekedar mengangkat harga diri keluarganya.
Pekerjaan yang ada hanya sebatas memenuhi kebutuhan material untuk tetap eksis dalam dunia. Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia ini fana, tidak abadi, kebanyakan orang menjadi lemas, sadar bahwa pekerjaannnya tidak terlalu berarti. Mendadak mereka merasa pekerjaannya sekedar formalitas dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Kemudian, kehadiran agama tiba-tiba menjadi penawar sekaligus candu ketidakabadian dunia dengan menawarkan dunia akhirat yang kekal –lepas dari dunia jasadi yang fana. Sebagian orang dengan pikir pendek kemudian mengisi sepanjang hari dengan ibadah untuk mendapatkan imbalan keabadian di surga. Namun, apakah keabadian tidak bisa didapatkan di dunia fana?
Dalam suatu film berjudul “Troy” mungkin bisa menjawab pertanyaan itu. Achilles, seorang pemuda Yunani, digambarkan tidak mempunyai rasa takut saat berperang. Dalam satu adegan, dia berpamitan kepada ibunya sebelum berangkat berperang ke kota Troya. Layaknya seorang ibu, dia mengkhawatirkan Achilles akan mati di medan perang. Achilles tetap bersikukuh untuk berangkat berperang dan ingin mendapatkan kemenangan di sana. Achilles tidak takut kematian, dia hanya ingin mengejar keabadian namanya dalam perang. Dalam narasinya dia berkata bahwa tidak ada manusia yang abadi, pekerjaan yang dilakukan semasa hidup manusialah yang membuat manusia itu abadi. Yang dimaksud Achilles adalah kendati manusia tidak bisa menghindar dari kematian dari kematian jasadnya, namun mereka mempunyai kesempatan mengabadikan namanya melalui jasa semasa hidup. Akhirnya dia berangkat menuju Troya dengan motivasi mengabadikan namanya dengan menjadi pahlawan perang. Dan keinginan Achilles untuk mengabadikan namanya sudah tercapai, dia membunuh Hector –Pangeran Troya.
Dalam percakapan Achilles dengan ibunya, manusia menganggap bahwa kefanaan jasad adalah sebuah derita. Akhirnya mereka mencari cara untuk eksis di dunia lebih lama dari umur kehidupannya. Dalam hal ini, Achilles memilih mengabadikan namanya dengan menjadi pahlawan perang. Di bidang lain, penulis menulis karya untuk mengenalkan dirinya di masa depan. Pesepakbola ingin meraih trofi untuk bisa masuk dalam rentetan nama pemenang sebelumnya. Mungkin inilah esensi kehidupan. Manusia-manusia ambisius akan melakukan apa saja agar mereka tidak mudah dilupakan –minimal oleh keluarganya.
Pada kasus yang lebih sederhana, para suami bekerja untuk mendapatkan status penting di lingkungan ketika perekonomian keluarganya terangkat. Para pahlawan kemerdekaan berperang melawan penjajah agar namanya bisa dikenang anak cucu, atau bahkan bangsanya. Para arsitek yang berlomba menciptakan proyek master piece-nya. Dan pejabat pun ingin namanya dikenal dan dikenang. Seperti halnya film G30S PKI yang wajib ditonton pada masa Orde Baru. Soeharto juga ingin mengabadikan namanya lewat film itu. Di samping untuk dokumentasi sebagai pelajaran-historis bangsa ini selanjutnya.
Munculnya uban, kendurnya kulit, merabunnya pandangan mata, kakunya tulang punggung, akan selalu menjadi derita bagi manusia. Jasad tidak mampu bertahan selamanya. Manusia mencari jalan lain untuk mengabadikan dirinya. Keabadian di dunia fana memang berbeda dengan di surga. Mereka yang masyhur di dunia tidak merasakan kepuasan secara terus-menerus ketika di akhirat (jika memang ada). Karena kepuasan hanyalah sebagian dari nafsu yang akan ikut menghilang saat berakhirnya kehidupan. Sedangkan keabadian yang ditawarkan di surga digambarkan bersifat memuaskan sepanjang waktu. Sekilas memang lebih menggiurkan keabadian yang ditawarkan oleh Tuhan di surga. Namun, apakah benar manusia masih mencari rasa puas (pengejewantahan dari nafsu) di surga? Wallahu alam.

Kamis, 11 September 2014

Tugas besar yang paling berkesan, seingat saya adalah TB (Tugas Besar) Hidrologi. Saya menghitung fluktuasi air banjir dan menentukan debit maksimum saat banjir. Poin yang berkesan di sini adalah mahasiswa harus menulis tangan, saya tegaskan, tulis tangan sebanyak tiga ratus lembar di kertas HVS/A4 yang kemudian dibendel. Isi bendelan tugas ini adalah hitungan-hitungan dengan rumus yang terkadang tidak dimengerti konsepnya. Saya bersyukur ada manusia jenius yang menciptakan pogram bernama MS. Excel. Saya tinggal copy paste file berisi rumus dari Vivi, teman saya, kemudian memasukkan variabel-variabel pengubah, dan hasilnya disalin di atas kertas.

                Mahasiswa Teknik Sipil sudah terbiasa menulis. Tangan mereka sudah lihai, luwes. Mereka biasa menulis dengan rentang waktu yang padat. TB setebal tiga ratus lembar dikerjakan dalam kurang lebih satu bulan. Bisa dibayangkan seberapa sering mereka menulis. Bisa dibayangkan pula seberapa keren mereka yang mengejewantahkan pemikiran ke dalam tiga ratus halaman dalam waktu sesingkat itu. Tan Malaka saja mengerjakan karyanya master piece-nya, Madilog, dengan waktu delapan bulan, itupun tidak setebal tiga ratus halaman.

                Dalam film “Finding Forester”, William Forester yang diceritakan sebagai novelis legendaris memarahi Jamal, muridnya, yang tidak kunjung menulis ketika sudah duduk di hadapan mesin ketik. Jamal tidak kunjung menulis karena pikirannya buntu, tidak tahu apa yang akan ditulis. William memarahi Jamal untuk segera berhenti berpikir dan segera menulis. Baginya, menulis akan lebih jujur jika kita mengawali menulis dengan hati, bukan dengan berpikir. Namun, tentu saja untuk mereka yang belum terbiasa menulis, menulis adalah hal yang sulit dilakukan, peduli itu diawali dengan hati atau dengan pikiran. Senior saya di Tegalboto, Oryza, mengatakan bahwa belajar menulis seperti belajar sepeda kayuh. Sama seperti belajar sepeda, keahlian menulis akan timbul hanya jika sudah menjadi kebiasaan.

                Menjadikan menulis sebagai kebiasaan sudah menjadi jati diri dari mahasiswa Teknik Sipil. Sebagian besar laporan dan tugas besar dikerjakan dengan menulis tangan. Nasihat untuk membiasakan diri untuk menulis sudah basi, seperti menyuruh anak SMA mengerjakan soal UAN SMP.

TB Pasti Berlalu

Tugas tetap saja tugas. Satu-satunya bagian yang membahagiakan dari mengerjakan tugas adalah saat mengakhirinya. Seberapa cepat kebahagiaan dicapai, diukur dari seberapa cepat menyelesaikan tugas besar.
               
Jangan bertindak sok suci untuk menikmati proses. Mereka yang menikmati proses dengan sengaja meninggalkan keutamaan pencapaian dan berakhir dengan molornya kelulusan. Lagipula, berproses pun tidak terlalu berguna banyak. Jika yang dikatakan berproses adalah mengamati kembali pekerjaan tugas besar kakak tingkat yang dijadikan contekan untuk kemudia mendapat hasil yang lebih akurat, dosen tidak peduli. Mereka hanya ingin mahasiswa menyetor bendelan bercover biru untuk dijadikan tiket masuk ruangan ujian akhir semester atau beberapa persentasi nilai akhir.

                Namun, saya melihat sudah banyak mahasiswa yang sadar akan keutamaan hasil akhir ini. Mahasiswa menulis tugas besar dengan menanggalkan sifat kritis, rumus yang salah tidak dikoreksi. Saya rasa itu wajar, mereka hanya ingin cepat lulus. Kuliah tidak murah, semakin lama lulus maka semakin banyak uang yang terkorek habis. Berbanding terbalik, jika cepat lulus maka semakin banyak uang yang masuk di kantong –jika mendapat pekerjaan sih.    Tugas besar yang menjadi penghalang kelulusan patut diselesaikan secepatnya demi kesehatan kondisi keuangan dan terjaganya harga diri.

                Mengerjakan tugas besar seperti maraton. Keringat-keringat yang jatuh di sepanjang rute sama banyaknya dengan kejengkelan karena sulit bertemu dosen-asisten/asisten-dosen. Kaki yang kram karena kelelahan sama berartinya dengan buntu karena bosan menuliskan rumus-rumus absurd. Kami terpaksa untuk memahami bahwa kebahagiaan dicapai dengan jalan penderitaan. Di saat keringat membasahi badan dan kaki mulai pegal-pegal, terbayang di dalam kepala kami pita garis finish yang akan menanti kami.


                Setelah melewati pita itu kami akan berbahagia, seolah lupa bahwa pita itu bukan hanya garis finish, tapi juga garis start untuk rute selanjutnya. Kebahagiaan kami hanya sementara. Kebahagiaan itu lenyap seketika kami menyadari harus kembali berlari menuju garis finish selanjutnya. Terkadang kami benci, mengapa mengorbankan diri pada penderitaan yang begitu lama hanya untuk kebahagiaan yang sementara. Saya teringat nasihat Freud tentang kebahagiaan dan penderitaan. Dia mengatakan, “Manusia lebih mudah menjadi menderita daripada berbahagia,” begitulah kira-kira nasihatnya.[]

Rabu, 20 Agustus 2014

Penerimaan mahasiswa baru sudah selesai. Masa ospek (perkenalan kampus) sedang berlangsung. Tidak sulit menengarai berlangsungnya masa ospek. Jika di kampus ada mahasiswa yang berambut hampir botak dengan jumlah yang tidak wajar, berarti ospek sudah dimulai. Setidaknya, itu adalah ciri fisik mahasiswa baru di Fakultas Teknik Universitas Jember. Jika diperhatikan lebih lanjut,  mereka juga sangat sopan, bersepatu pantofel, kemeja putih, celana hitam, kadang beralmamater (sekalipun kita tahu mereka sedang tidak melakukan sidang skripsi). Bagi saya, dandanan macam ini lebih mirip buruh pencari kerja daripada seorang calon akademisi.

Kegiatan ospek bertujuan mengenalkan mahasiswa baru kepada lingkungan barunya di kampus. Beberapa orang berpendapat bahwa pendekatan personal mahasiswa dengan lingkungan kampus bisa diraih dengan cepat melalui kedisiplinan dan sedikit bumbu kekonyolan. Pendapat ini saya rasa umum di Indonesia, yang mewajibkan mahasiswa baru melakukan baris-berbaris dalam waktu lebih dari satu jam sambil mendengar cacian senior dan mewajibkan mahasiswa memakai atribut-atribut yang unik –sebagai kata ganti aneh.

Bagi mahasiswa teknik, kedisiplinan dirasa perlu. Mahasiswa nantinya akan terhimpit waktu untuk mengerjakan tugas besar dan laporan praktikum (juga tugas kecil seperti mahasiswa fakultas lain seperti makalah, presentasi, proposal). Saya ingat bahwa alasan itulah yang menjadi pembenaran senior melakukan pendisipilinan sejak dini terhadap mahasiswa baru. Sejauh ini saya sependapat dengan mereka. Kedisipilinan yang merupakan cerminan dari ketertiban yang menurut Sigmund Freud, mutlak diperlukan dalam peradaban.

Sedikit meluaskan pembicaraan, saya ingin membicarakan bagaimana ketertiban diperlukan dalam peradaban menurut Freud. Dalam peradaban, manusia berusaha memproduksi benda-benda untuk membantunya menguasai alam semesta. Benda ini yang kita sebut sebagai teknologi. Dalam proses produksi teknologi ini, manusia menyadari bahwa tenaga dan waktunya yang terbatas. Kedua faktor inilah menjadi pagar luar yang menghalangi manusia mengembangkan rasa ingin tahunya secara bebas. Kita tahu bahwa rasa ingin tahu manusia tidak pernah menemui titik akhir, penemuan satu akan menimbulkan rasa ingin tahu yang nantinya mendorong lahirnya penemuan selanjutnya. Manusia sebagai pencipta peradaban mulai sadar bahwa keterbatasan tenaga dan waktu yang dimiliki memaksanya untuk melakukan manajemen terhadap kedua faktor ini. Pada akhirnya, timbullah istilah deadline (yang membatasi waktu) dan target produktivitas (yang membatasi tenaga). Manusia berharap dengan adanya kepastian mengenai seberapa banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan dalam satu pekerjaan, mereka bisa cepat berpindah melakukan pekerjaan lain, sebagai tuntutan peradaban.

Manusia memuja ketertiban. Mereka menginginkan semua terjadi sesuai rencana. Namun, realitas tidak sedemikian sederhana sehingga mengijinkan kita untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lancar. Nietzsche mengingatkan bahwa, selamanya, realitas akan selalu acak dan konsep yang diciptakan manusia hanya sekedar refleksi pengalaman pribadinya sehingga tidak dimungkinkan adanya konsep yang universal. Para pemuja ketertiban –baca:manusia, boleh saja menciptakan standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap pekerjaannya. Namun, kemudian mereka harus tunduk pada realitas yang memaksa mereka mengkritik konsep mereka sendiri dengan pertanyaan, “Apakah konsep ini sudah memuat semua kemungkinan dalam realitas?”, “Mungkinkah konsep ideal ini terlaksana?”

Sudah lama sekali manusia menginginkan ketertiban dalam dirinya, sesaat menyadari betapa mengagumkannya keteraturan pada alam semesta. Mereka tiba-tiba menginginkan mencontoh keteraturan lintasan orbit planet-planet di galaksi yang menyebabkan terhindarnya tabrakan antar planet. Namun, tetap saja mereka harus bersiap kecewa saat mendapati bahwa alam menyediakan faktor-faktror eksternal lain yang akan menghalangi untuk mencapai keinginannya. Selain faktor eksternal, manusia juga terpaksa menelan kenyataan bahwa ada faktor internal yang ikut menghambat berbentuk rasa malas, yang celakanya telah ada sejak mereka lahir di dunia.

Dengan serentetan pendapat ini, saya setuju dengan pemikiran senior untuk menumbuhkan kedisiplinan dalam diri mahasiswa baru. Kita tahu, dengan adanya kedisiplinan yang tumbuh dalam diri memang tidak akan serta merta menghilangkan faktor penghambat eksternal, namun paling tidak kita hanya bisa berharap kedisiplinan menghilangkan penghambat internal yang berupa rasa malas tadi.

Di sisi lain, saya ragu dengan praktik yang dilakukan dalam rangka penumbuhan kedisiplinan ini. Saat saya menjadi mahasiswa baru, ada waktu dimana seluruh mahasiswa baru pergi ke lantai basement sebuah gedung untuk sebuah acara. Kami berbaris sesuai kelompok yang sebelumnya ditentukan. Mahasiswa senior yang tergabung dalam divisi kedisiplinan mulai mondar-mandir. Pada awalnya tidak jelas apa tujuan membentuk barisan yang rapi hingga kemudian kami tahu bahwa mereka sedang mencari-cari kesalahan kami. Mereka berjalan di sela-sela barisan meneliti; kelengkapan atribut (celana hitam, kemeja putih, almamater, sepatu hitam, dan papan kardus besar yang digantung di dada berisi identitas, cukuran rambut). Mereka yang terlihat tidak memenuhi standar kemudian disruh berbaris di depan. Saya rasa tidak perlu menambahkan apa yang terjadi jika mahasiswa baru disuruh berbaris terpisah di depan barisan temannya oleh mahasiswa senior, selain pembunuhan terhadap identitas.

Pada awalnya kami menaruh maklum dan terbersit pikiran bahwa teman kami yang di depan pantas menerima hukuman karena ketidaksesuaiannya dengan keinginan senior. Namun, pada tahap selanjutnya, kedisiplinan yang diinjeksikan secara paksa dan terus-menerus membuat kami mencari orang ideal yang bisa dijadikan contoh. Terlebih lagi, dalam proses penanaman kedisiplinan ini banyak mahasiswa yang dengan terpaksa menghilangkan jati diri mereka sebagai pemalas. Sangat naluriah rasanya ketika mahasiswa baru menghilangkan identitas lama demi mendapatkan identitas baru, mereka mencari contoh ideal untuk memastikan apakah pengorbanan mereka pantas dilakukan. Mereka curiga bahwa mengorbankan identitas lama mereka bisa menjadi sia-sia, sehingga mereka perlu meyakinkan diri betapa signifikannya pengaruh pengorbanan mereka terhadap hidup mereka selanjutnya. Pencarian pribadi yang ideal pada mulanya akan ditujukan kepada para mahasiswa senior divisi kedisiplinan, yang secara intensif berhadapan dengan mahasiswa baru saat terjadi pelanggaran. Sebab, tidak mungkin mahasiswa divisi kedisiplinan begitu konservatif dengan aturan kecuali mereka sudah merasa cukup disiplin menaati aturan itu. Kemurkaan yang dilakukan oleh senior kepada mahasiswa baru terus-menerus mengukuhkan bahwa merekalah manusia ideal.

Pencarian contoh yang ideal dalam penerapan aturan sudah menjadi cerita biasa. Saya rasa ini mirip sekali dengan tuntutan masyarakat terhadap Polantas agar menaati aturan lalu lintas atau kyai yang harus melakukan sholat lima waktu, ketaatan mereka terhadap peraturan yang mereka dakwahkan sendiri sangat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan masyarakat. Sekalipun demikian, contoh ideal seperti itu tidak kami temui di Fakultas Teknik. Ketika itu, divisi kedisiplinan bukanlah orang ideal yang bisa dijadikan contoh. Nyatanya, saat mereka mengharuskan cukur rambut sepanjang satu centimeter dengan alasan kerapian, sebaliknya beberapa dari mereka mempunyai rambut gondrong dengan panjang lebih dari dua puluh centimeter. Mereka mewajibkan kami memakai pakaian dengan rapi, namun dandanan mereka tidak lebih baik dari preman yang nongkrong di waung dekat terminal. Mereka mewajibkan kami menghormati senior, sedangkan mereka tidak membalas berbicara dengan hormat kepada kami yang muda.

Saya tidak mempermasalahkan rambut mereka sebagai tolak ukur manusia ideal. Yang saya permasalahkan adalah, semakin konservatif divisi kedisiplinan melindungi kemurnian peraturan mereka dari pemberontak, selama itu pula mereka semakin dituntut untuk lebih sering bercermin akan kepatuhan mereka terhadap peraturan yang mereka buat sendiri. Sikap konservatif menjaga kemurnian peraturan yang tidak diimbangi dengan kepatuhan senior berakibat mahasiswa baru tidak memiliki contoh ideal yang mengakibatkan kekaburan etika yang coba ditanamkan. Kegagalan semacam ini sudah bisa terlihat dengan pasti saat tabiat mahasiswa baru yang kembali tidak disiplin pasca dilakukannya ospek.

Pada akhirnya, pada perdebatan imajiner yang panjang dengan seorang mahasiswa panitia ospek, saya mengkhayalkan dia mengakhiri perdebatan dengan mengatakan, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, sandiwara ini hanya berlangsung selama empat kali pertemuan.” Aih, ternyata ospek hanya sandiwara (sambil nyanyi lagunya Godbless), “Dunia ini…. Panggung sandiwara …. Ceritanya mudah berubah ….. lalalalala …….

Minggu, 03 Agustus 2014



Saat aku mengatakan aku mencintaimu, aku tidak pernah mempunyai maksud tersirat bahwa aku akan menikahimu. Kebanyakan orang terlalu muluk-muluk mempercayai kata-kata hingga tidak menyadari jika ternyata pemaknaannya berlebihan. Aku hanya mengatakan, “Aku mencintaimu”, dan kau bertindak seakan-akan mendengar, “Aku ingin hidup selamanya denganmu”? Bagaimana bisa kau mengartikannya seperti itu jika kau tidak berlebihan?
                Wanita butuh janji –seperti juga kau, meskipun sebenarnya kau tahu bahwa janji itu hanya penghibur bagimu, kau cukup berpengalaman dengan pengingkaran kan? Lihatlah dunia luar, begitu banyak wanita, begitu banyak hal indah. Kita tidak bisa menjamin bahwa suatu saat nanti kita bisa jatuh cinta kepada orang lain selain kita. Pada awalnya, kita juga mengira untuk tetap mencintai satu hal saja –sebelum hal lain tiba-tiba membuat kita takluk kembali. Seperti saat aku tiba-tiba mencintaimu, dengan mudah aku meninggalkan cintaku yang dahulu.
                Tapi aku tidak menyalahkanmu. Saat ini aku adalah kekasihmu, kau pantas berharap seperti itu. Hubungan selalu mengekang bukan? Jika tidak mengekang, hubungan akan kehilangan makna. Seperti saat aku dilahirkan sebagai anak oleh ibuku, maka aku dikekang untuk tinggal bersamanya. Saat aku dianggap sebagai murid oleh guruku, maka aku dituntut untuk belajar hanya darinya. Saat aku mengaku beragama Islam, maka aku dituntut untuk melakukan lima rukun Islam. Saat aku menjadi rakyat Indonesia, maka aku dituntut untuk tidak memiliki kewarganegaraan lain. Dan saat aku menjadi kekasihmu, secara langsung aku dituntut untuk tidak mencintai yang lain.
                Iya, kamu benar. Aku harus tidak mencintai orang lain. Tidak bisa dikatakan cinta jika mendua,” kata orang lain di sekelilingku yang gencar menolak poligami. Memberikan hati pada lebih dari satu orang sama saja melacurkan diri sendiri. Kami bisa dibilang laki-laki murahan karena bisa jatuh cinta kepada beberapa orang sekaligus. Namun, bukan kita yang mengendalikan kepada siapa kita jatuh cinta, dan mungkin kita bisa tidak sengaja saat jatuh cinta, seperti saat aku jatuh cinta padamu. Jika saja kau ingin menyamakan dengan pelacur, aku menganggap bahwa pada kadar tertentu bisa dibilang sama. Pelacur dan pejatuh cinta sama-sama tidak sengaja atau bahkan terpaksa melakukan hal-hal yang tidak disukai masyarakat umum.
                Jangan kau bilang bahwa pelacur itu hina. Yang menghinakan dia hanya mereka yang juga menginginkan aroma vagina –namun terkendala norma. Para penghina pelacur sebenarnya lebih hina karena mereka sedang menghina orang yang ingin menafkahi keluarga. Para pelacur bingung karena selalu membentur tembok tinggi birokrasi saat mencari pekerjaan. Mereka tidak mempunyai relasi yang cukup untuk melakukan tindakan nepotisme. Lalu para pelacur kembali ke kamar dari kantor yang telah menolaknya, dia berdiri di depan cermin dan berkata, “Aku cuma mempunyai tubuh ini untuk mencari kerja. Dan sepertinya para petinggi birokrasi ingin melihatnya tanpa busana.” Salahkah mereka? Birokrasi yang penuh nepotisme yang mengajarkan mereka menjadi pelacur.
                Maka jangan kau salahkan kepada siapa kita jatuh cinta. Hapuskan pikiran bahwa jatuh cinta pada dua hati dan pelacuran adalah hal yang keji. Terlalu naif segala justifikasi mengenai baik dan buruk, keduanya hanya masalah nasib. Terlalu banyak faktor yang nantinya seakan meniadakan niat awal kita dan memaksa untuk terlibat dalam kenyataan mainstream. Percayalah.